Saturday, January 10, 2015

Sejarah Jurnalistik Dunia & Indonesia


SEJARAH JURNALISTIK DI DUNIA


Awal  mulanya muncul jurnalistik dapat diketahui dari berbagai literatur tentang sejarah jurnalistik senantiasa merujuk pada “Acta Diurna” pada zaman Romawi Kuno masa pemerintahan kaisar Julius Caesar (100-44 SM). “Acta Diurna”, yakni papan pengumuman (sejenis majalah dinding atau papan informasi sekarang), diyakini sebagai produk jurnalistik pertama; pers, media massa, atau surat kabar harian pertama di dunia. Julius Caesar pun disebut sebagai “Bapak Pers Dunia”.




Saat berkuasa, Julius Caesar memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada “Acta Diurna”. Demikian pula berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya. Papan pengumuman itu ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang disebut “Forum Romanum” (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum.

Berita di “Acta Diurna” kemudian disebarluaskan. Saat itulah muncul para “Diurnarii”, yakni orang-orang yang bekerja membuat catatan-catatan tentang hasil rapat senat dari papan “Acta Diurna” itu setiap hari, untuk para tuan tanah dan para hartawan.

Dari kata “Acta Diurna” inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata “Diurnal” dalam Bahasa Latin berarti “harian” atau “setiap hari.” Diadopsi ke dalam bahasa Prancis menjadi “Du Jour” dan bahasa Inggris “Journal” yang berarti “hari”, “catatan harian”, atau “laporan”. Dari kata “Diurnarii” muncul kata “Diurnalis” dan “Journalist” (wartawan).

Sejarah Jurnalistik di Indonesia

Tokoh pers nasional, Soebagijo Notodidjojo dalam bukunya PWI di Arena Masa (1988) menulis, Tirtohadisoerjo atau Raden Djokomono (1875-1918), pendiri mingguan Medan Prijaji yang sejak tahun 1910 berkembang jadi harian sebagai pemrakarsa pers nasional. Artinya dialah yang pertama kali mendirikan penerbitan yang dimodali modal nasional dan pemimpinnya orang Indonesia.

Dalam perkembangan selanjutnya, pers Indonesia menjadi salah satu alat perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Haryadi Suadi menyebutkan , salah satu fasilitas yang pertama kali direbut pada masa awal kemerdekaan adalah fasilitas percetakan milik perusahaan Koran Jepang seperti Soeara Asia (Surabaya), Tjahaja (Bandung), dan Sinar Baroe (Semarang).

Menurut Haryadi, kondisi pers Indonesia semakin menguat pada akhir 1945 dengan terbitnya beberapa koran yang mempropagandakan kemerdekaan Indonesia seperti, Soeara Merdeka (Bandung), Berita Indonesia (Jakarta).

Jurnalistik Indonesia Sebelum Merdeka

Di Indonesia pers mulai dikenal pada abad 18, tepatnya pada tahun 1744, ketika sebuah surat kabar bernama “Bataviasche Nouvelles” diterbitkan dengan perusahaan orang-orang Belanda. Surat kabar yang pertama sebagai bacaan untuk kaum pribumi dimulai tahun 1854 ketika majalah “Bianglala” diterbitkan, disusul oleh “Bromartani” pada tahun 1885, kedua-duanya di Weltevreden, pada tahun 1856 “Soerat Kabar Bahasa Melajoe” di Surabaya. Sejak itu bermunculanlah berbagai surat kabar dengan pemberitaan bersifat informatif, sesuai dengan situasi dan kondisi pada zaman penjajahan itu.
            
Sejarah pers pada abad 20 ditandai dengan munculnya koran pertama milik Bangsa Indonesia. Modal dari bangsa Indonesia dan untuk bangsa Indonesia, yakni “Medan Prijaji” yang terbit di Bandung. Medan Prijaji yang dimiliki dan dikelola oleh Tirto Hadisuryo alias Raden Mas Djokomono ini pada mulanya, yakni tahun 1907 berbentuk mingguan, kemudian pada tahun 1910 diubah menjadi harian.


Ditinjau dari sudut jurnalistik salah seorang tokoh bernama Dr. Abdoel Rivai dianggap sebagai wartawan yang paling terkenal karena tulisannya yang tajam dan pedas terhadap kolonialisme Belanda. Oleh Adinegoro, Dr. Rivai diberi julukan “Bapak Jurnalistik Indonesia” dan diakui oleh semua wartawan pada waktu itu sebagai kolumnis Indonesia yang pertama.

Jurnalistik Indonesia Pasca Kemerdekaan

Seperti juga di belahan dunia lain, pers Indonesia diwarnai dengan aksi pembungkaman hingga pembredelan. Haryadi Suadi mencatat, pemberedelan pertama sejak kemerdekaan terjadi pada akhir 1940-an. Tercatat beberapa koran dari pihak Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang dianggap berhaluan kiri seperti Patriot, Buruh, dan Suara Ibu Kota dibredel pemerintah. Sebaliknya, pihak FDR membalas dengan membungkam koran Api Rakjat yang menyuarakan kepentingan Front Nasional. Sementara itu pihak militer pun telah memberedel Suara Rakjat dengan alasan terlalu banyak mengkritik pihaknya.

Pada tanggal 1 Oktober 1945 terbit Harian Merdeka sebagi hasil usaha kaum Buruh De Unie yang berhasil menguasai percetakan. Pada saat revolusi fisik itu jurnalistik Indonesia mempunyai fungsi yang khas. Hasil karya wartawan bukan lagi bermanfaat bagi konsumsi pembaca di daerah pedalaman, tetapi juga berguna bagi prajurit-prajurit dan laskar-laskar yang berjuang di Front. Berita yang dibuat para wartawan bukan saja mengobarkan semangat berjuang membela kemerdekaan, tetapi sekaligus sebagai alat pemukul terhadap hasutan-hasutan pihak Belanda yang disiarkan melalui berbagai media massanya.

Pada tanggal 1 Januari 1950 berlakulah UUD RIS, tetapi pada tanggal 15 Agustus 1950 RIS dibubarkan, dan Indonesia menjadi Republik Kesatuan dengan UUDS. Pada waktu itu yakni waktu pengakuan kedaulatan sampai tahun 1959 yaitu munculnya doktrin demokrasi terpimpin yang kemudian disusul dengan ajaran Manipol Usdek, kebebasan pers banyak digunakan untuk saling mencaci-maki dan memfitnah lawan politik dengan tujuan agar lawan politiknya itu jatuh namanya dalam pandangan khalayak.

Antara tahun 1955 sampai 1958 dengan UU No. 23 tahun 1954 banyak surat kabar yang dibredel, banyak pula wartawan yang ditangkap dan ditahan. Tanggal 1 Oktober 1958 dapat dikatakan sebagai tanggal matinya kebebasan pers Indonesia. Sesudah Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, pihak penguasa berturut-turut mengeluarkan peraturan untuk lebih mengetatkan kebebasan terhadap pers. 

Tahun 1966 bagi sejarah pers Indonesia merupakan tahun penting karena pada tahun itulah dikeluarkannya UU No. 11 tahun 1966 tentang ketentuan-ketentuan pokok pers.

Ditinjau dari segi kualitas dan kuantitas, sejarah perkembangan pers dan jurnalistik Indonesia sejak saat itu menggembirakan dan membanggakan kita. Pada tahun 1988 tercatat ada 263 penerbitan pers, pada tahun 1992 jumlah tersebut meningkat menjadi 277 penerbitan pers.

Jurnalistik Indonesia  Zaman  Orde Baru

Selama dua dasawarsa pertama Orde Baru, 1965–1985, kebebasan jurnalistik di Indonesia, memang bisa disebut lebih banyak bersinggungan dengan dimensi, unsur, nilai, dan roh ekonomi daripada dimensi politik. Sebagai sarana ekonomi, pers dapat hidup dengan subur tetapi sebagai wahana ekspresi, penyalur pendapat umum, pengemban fungsi kontrol sosial, pers Indonesia dihadapkan pada berbagai pembatasan dan tekanan dari pihak penguasa pusat dan daerah. Orde Baru sangat menyanjung ekonomi namun membenci politik. 

Kebebasan jurnalistik, kebebasan pers, dalam dua dari tiga dasawarsa kekuasaan monolitik Orde Baru, hanya lebih banyak memunculkan kisah sedih daripada kisah sukses yang sejalan dengan amanat para pendiri bangsa seperti dinyatakan dengan tegas dalam Pasal 28 UUD 1945. Disebut sebagai era pers tiarap Orde Baru. Hanya dengan tiarap, dengan mengendap-endap pers kita diharapkan bisa tetap bertahan hidup. Strategi inilah yang dipilih sebagian pers nasional untuk meloloskan diri dari jebakan-jebakan kematian. Orde Baru pun akhirnya tumbang pada 21 Mei 1998, lahirlah kemudian apa yang disebut Orde Reformasi.

Jurnalistik Indonesia  Zaman  Reformasi

            Kebebasan jurnalistik berubah secara drastis menjadi kemerdekaan jurnalistik. Terjadi euforia di mana-mana kala itu.
            Secara yuridis, UU Pokok Pers No 21/1982 pun diganti dengan UU Pokok Pers No 40/1999. Dengan undang-undang baru dan pemerintahan baru, siapa pun bisa menerbitkan dan mengelola pers. Siapa pun bisa menjadi wartawan dan masuk organisasi pers mana pun. Hal ini ditegaskan pada Pasal 9 ayat (1) UU Pokok Pers No 40/1999, setiap warga negara Indonesia dan negara berhak mendirikan perusahaan pers. Ditegaskan lagi pada ayat (2), setiap perusahaan pers harus berbentuk badan hukum Indonesia.
Kewenangan pers nasional itu sendiri sangat besar. Menurut Pasal 6 Pokok Pers No. 40/1999, pers nasional melaksanakan peranan: (1) memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, (2) menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaan,
(3) mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar, (4) melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhdap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, dan (5) memperjuangkan keadilan dan kebenaran.
            Dalam era reformasi, kemerdekaan pers benar-benar dijamin dan diperjuangkan. Semua komponen bangsa memiliki komitmen yang sama: pers harus hidup dan merdeka. Hidup, menurut kaidah manajemen dan perusahaan sebagai lembaga ekonomi. Merdeka, menurut kasidah demokrasi, hak asasi manusia, dan tentu saja supremasi hukum.

Jurnalistik Indonesia Hari Ini

Setelah mengalami era kebebasan dan kemerdekaan selama sepuluh tahun, pers kembali dihadapkan kepada sesuatu yang dilematis. Di satu sisi, runtuhnya kekuasaan represif Orde Baru membuat dunia pers menikmati masa gemilang dengan kebebaan yang seolah tak terbatas. Namun, di sisi lain, liberalisasi pada akhirnya mengundang kekhawatiran publik.

Apakah pers harus mempertahankan atau mengerem kebebasan yang dimiliki. Dampak-dampak negatif akan bermunculkan dari kebebasan dan industrialisasi pers.

          Hal itu terjadi dengan adanya beberapa pers yang tidak menggunakan etika pers atau kode etik jurnalistik dalam melaksanakan kegiatan jurnalisme. Tidak adanya pembatasan yang ketat akan semakin membuat dunia pers terbawa arus liberalisasi. Contoh halnya pada media elektronik seperti televisi. Begitu banyak tayangan-tayangan yang memperlihatkan nilai yang jauh dari kewajaran. Seakan-akan kebebasan pers ini memberikan ruang gerak yang besar untuk bisa mengekspresikan segala hal, baik itu yang positif, terlebih yang negatif.

Pulitzer

Penghargaan bergengsi ini tak lain adalah penghargaan Pulitzer (Pulitzer Prize). Selain diberikan untuk pencapaian tertinggi dalam jurnalisme, Pulitzer juga diberikan dalam bidang sastra dan gubahan musik. Penghargaan tahunan ini pertama kali diadakan pada 4 Juni 1917, dan sejak beberapa waktu lalu, diumumkan setiap bulan April.

Penerima penghargaan ini dipilih oleh sebuah dewan independen yang secara resmi diatur oleh Columbia University Graduate School of Journalism (Sekolah Jurnalisme Universitas Columbia) di Amerika Serikat. Penghargaan Pulitzer digagas pertama kali pada akhir abad ke-19 oleh Joseph Pulitzer, seorang jurnalis dan penerbit surat kabar warga AS yang lahir di Hungaria.   








Sources:

http://www.asal-usul.com/2009/04/joseph-pulitzer-penghargaan-pulitzer.html
http://jurnalistikmadingsma.blogspot.com/2012/10/sejarah-jurnalisme-di-indonesia.html
http://anggelinasinta.blogspot.com/2012/11/sejarah-dan-perkembangan-jurnalistik-di.html
http://wantysastro.wordpress.com/2012/10/05/sejarah-jurnalistik-di-dunia-dan-di-indonesia/





Tuesday, December 30, 2014

5 Tahun Kedepan.....

Apa yang akan saya lakukan 5 tahun kedepan? Dan target apa saja yang saya ingin capai dalam 5 tahun kedepan. 

Untuk 5 tahun kedepan rencana saya setelah lulus yang pertama adalah mencari pekerjaan sesuai keahlian kalau bisa di keduta besar asing atau Perusahaan swasta seperti menjadi editor di sebuah pernerbit buku ternama, Koran ataupun majalah dan mendapat gaji yang sesuai dengan keahlian saya. Saya akan terus bekerja sampai saya bisa mencapai target saya. 


Di usia 24 tahun saya sudah harus mapan bisa membeli kendaraan sendiri lalu memulai usaha kecil-kecilan sebagai bekal untuk di masa datang. Dan saya ingin usaha saya berhasil lalu saya akan mengembangkan usaha saya. Saat usia saya 25 tahun saya harus bisa memiliki rumah saya sendiri untuk tinggal sendiri karena saya harus lepas dari tangan orang tua saya.


 Dan begitu saya bisa lebih dewasa saya juga ingin membahagaian orang tua saya, memberikan hasil keringat saya sebagai tanda terima kasih saya kepada orang tua saya. Dan yang terakhir saya ingin jalan-jalan ke negara yang saya ingin kunjungi seperti Maldives, Norway,dll. Itu harapan saya untuk 5 tahun kedepan dan saya akan berusaha keras untuk mencapai itu semua.

Friday, October 31, 2014

Jurnalistik "Opini"

Berita Opini

Marc Marquez kembali memenangi MotoGP World Champioship 2014 di Motegi. Tepatnya lagi pada tanggal 12 Oktober 2014 dan sirkuit itu merupakan sirkuitnya Honda, Jepang. Saat itu Marc yang hanya berada di posisi dua sedangkan lawannya Jorge Lorenzo memenangi balapan hari itu mendapatkan gelar sebagai MotoGp World Champion hari itu. Marc merupakan pembalap yang termuda dengan umur 21 tahun memenangi balapan di seri grand prix untuk ke dua kalinya secara berturut-turut. Menurut saya dia cocok sekali untuk di katakan sebagai "the baby alien" karena diusia nya yang masih tergolong muda ini prestasinya sudah luar biasa sekali. Bahkan dia juga memecahkan rekor pembalap-pembalap senior lainnya seperti Mike Doohan. Kagum karena dirinya merupakan rookie pada tahun 2013 dan meraih gelar the best rookie serta world champion di saat yang sama. Dimana laki-laki yang seumuran dengannya masih suka hangout dan melakukan sesuatu yang menyenangkan. Tetapi marc memilih untuk settle down dengan berkarir sebagai pembalap dan melawan pembalap sekelas Valentino Rosie yang merupakan juara dunia sebanyak sembilan kali dan Jorge Lorenzo yang juga dua kali sudah meraih juara dunia. Memang marc bisa di katakan handal dalam mempelajari teknik-teknik lawannya, sehingga iya bisa menaklukkan lawannya tetapi hal itu juga tidak mudah. Itulah kenapa Marc Marquez layak disebut sebagain Motogp World Champion.














Referensi :https://id.yahoo.com/?p=us

Saturday, October 25, 2014

Jurnalistik "Investigatif"

Berita Investigatif 

"Kleptomania" Di Sekolah


Pada saat saya duduk di salah satu sma swasta di daerah Jakarta Timur, ada salah satu teman saya yang memiliki kurang lebih kebiasaannya atau bisa disebut juga penyakit ini. Memang hal ini tidak membahayakan untuk para korban tetapi hal ini sangat merugikan bagi para korbannya. Pada saat sma teman saya yang berinsial A mengambil headseat yang saya letakkan di kolong meja. Kronologis kejadian pada saat itu tepat pukul 12 an hari Jum'at saat anak-anak istirahat panjang dan biasanya kelas tidak terlalu ramai terkadang bahkan sepi. Nah saat itu saya juga beristirahat untuk jajan dan sholat, setelah itu saya kembali ke kelas ingin mendengarkan lagu sejenak. Saat saya merogoh ke laci ternyata headset saya hilang saya pikir saya lupa tapi itu tidak mungkin. Teman saya membantu mencari tidak ada, beberapa hari kemudian ternyata si A menggunakan headset saya tanpa merasa bersalah. Dan ternyata tidak hanya itu menurut teman-teman yang lain ada juga barang mereka yang di ambil lalu di hilangkan atau di hapuskan namanya sehingga itu itu seperti miliknya.Jadi hal ini terjadi bukan hanya yang pertama kalinya. Jadi ia mengambil barang orang lalu menghapus identitas atau jejang orang yang memilikinya. Dan kebiasaan ini biasanya hanya kepuasaan jadi ia tidak mencuri untuk di jual kembali melainkan hanya, mencuri untuk di simpan atau di gunakan sebagai kepuasaan semata. Anak-anak sekelas pun menjadi berhati-hati karena tidak ingin hal itu terjadi pada mereka.








Friday, October 17, 2014

Jurnalistik "Interpretatif"

Interpretatif

 Pencurian di Daerah yang Sama

        Baru-baru ini kembali terjadi kasus pencurian, tepatnya di Jl. Almadaniah yang berlokasi di Curug, Jakarta Timur. Sama seperti kasus sebelumnya masih tidak di ketahui siapa yang pelakunya. Pada tanggal 12 Oktober, pelaku membobol lemari korban dan mengambil beberapa barang berharga korban, seperti uang dan emas. Pelaku melancarkan aksi nya pada siang hari yang kemungkinan korban sedang tidak berada di rumah. Sampai saat ini masih belum di ketahui motif pelaku dalam melakukan pencurian. Pencurian sudah tidak asing lagi di telinga orang Jakarta, karena masih ada pengangguran dan ingin mendapat uang dengan instan tanpa harus bekerja. 


          Menurut saya hal ini bisa terjadi karena kurangnya sistem keamanan disana atau mungkin juga pemilik rumah yang kurang berhati-hati saat meninggalkan rumahnya. Karena di daerah tersebut juga sudah pernah terjadi hal yang sama dalam jangka waktu dekat. Lebih baik berhati-hati dan tetap waspada agar hal yang sama tidak terjadi kembali.




Sunday, October 12, 2014

Tourism

Kota Tua



            As you know there’s a place in Jakarta that very popular amongs tourist. And those place called Kota Tua from the name itself you must known that it was an old town. In 1619 Jayakarta was destroyed by VOC and a year later they made a new town called Batavia , people that lived in Batavia called Batavianen.  Batavia “Jewel of Asia” and “Queen of the East” named by European sailors in 16th Century. Popular because they used it as a port to trade items such as spices and tobacco. In 1635 Kota Tua expanded to west of Ciliwung and Batavia was completed build in 1650. From 1835 to 1870 the dutch expanded their area to the south as well. Now “Betawi” is what you called with Batavianen before , the real etchic from Jakarta.


photo by judynafotografi

          In 1942 Batavia was renamed by Japanese during the Japanese invade become Jakarta, now known as capital city of Indonesia. In 1972 Jakarta Governor at that time Ali Sadikin made Kota Tua as official heritage site, he said that to prevented one of the most historical site from being destroyed and abandoned or at least left it be. The size of Kota Tua is 15 hectare from north to west. From the old buildings in Kota Tua you will know there are so many influences from European, also the architecture and canal system that very popular or known as european style building. So many landmark in here such as museum and houses built by the dutch.


photo by hotelmurahdijakarta.com
   






Source or Reference : www.wikipedia.com

Name : Swastining Tyas
Class  : 3SA 05
NPM  : 17612229

Saturday, October 4, 2014

Jurnalistik "Feature"

Feature



Dalam ilmu jurnalistik, feature merupakan salah satu bentuk tulisan non fiksi, dengan karakter human interest yang kuat. Feature adalah sebuah tulisan jurnalistik juga, namun tidak selalu harus mengikuti rumus klasik 5W + 1 H.

Feature adalah jenis tulisan yang lebih bersifat menghibur, isinya kadang sesuatu yang remeh dan luput dari liputan wartawan straight news, tetapi tidak terlalu terikat dengan tenggat waktu. Ia bisa ditulis kapan saja dan di-publish kapan saja.

Bentuk tulisan feature tidak terpaku pada bentuk piramida terbalik. Justru mengharapkan pembaca mengikuti dengan seksama dari awal hingga akhir tulisan. Kalau diberita langsung (straight news) pembaca cukup membaca paragraf awal tulisan, maka di dalam feature justru inti tulisan baru ditemukan bila membaca dari awal hingga akhir. Dalam penulisan feature agar tidak tersesat kemana mana, tentukan dulu angle/sudut pandang tulisan yang akan memandu arah tulisan.


Fungsi feature mencakup lima hal:
a. Melengkapi sajian berita langsung (straight news).
b. Pemberi informasi tentang suatu situasi, keadaan, atau peristiwa yang terjadi.
c. Penghibur dan pengembangan imajinasi yang menyenangkan.
d. Wahana pemberi nilai dan makna terhadap suatu keadaan atau peristiwa.
e. Sarana ekspresi yang paling efektif dalam mempengaruhi khalayak.




Jajan Enak Harga Murah


Saat ini jajanan sudah dapat kita temui di manapun dan kapanpun. Tidak perlu susah pula dalam mencari jajanan. Salah satu yang saya pernah kunjungi merupakan Wargih "Warung Nagih". Biasanya saya kesana pada hari Sabtu untuk jajan atau sekedar minum-minum saja. Wargih terletak di Jl. Kapten Tendean, Mampang Prapatan buka pada pukul 17.00 - 01.00 (Senin-Kamis) sedangkan pukul 17.00 - 01.30 (Juma't - Minggu). Roti bakar masih menjadi favorit jika ingin makan disana. Karena roti bakar disana menyediakan berbagai macam topping antara lain nutella, toblerone, marshmallow, keju dll. Menu lain juga tersedia disana seperti dimsum, pisang bakar, mie dll.


photo by www.burpple.com



Harga yang ditawarkan juga tidak terlalu mahal, sehingga banyak sekali anak mudah yang memilih untuk makan disana. Harga di mulai dari Rp 6.500-Rp 20.500 untuk menambah topping mulai dari rp 3.500-Rp 8.500 sesuai topping yang di pilih. Itu mengapa tempat ini masih saja ramai, terkadang kita perlu mengantri untuk mendapatkan tempat duduk. Karena jika kita datang terlalu malam tempat akan penuh sehingga perlu menunggu "waiting list". Jangan takut terlalu lama mengunggu karena waktu menggu anda akan terbayar oleh lezatnya roti bakar wargih. 



Source: http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/07/30/mengenal-tulisan-jurnalistik-feature-berita-kisah-berita-khas/